Subuh, setiap bangun tidur, biasanya saya menyalakan tv dan mencari saluran berita. Tapi subuh itu saya iseng mendengarkan ceramah seseorang. Sebab temanya agak lain dari biasa: tentang ibu tiri. Tentu saja saya merasa punya kepentingan dengan tema ceramah ini.
Kata ustadz itu, yang muda dan selalu membuat orang tertawa, ibu tiri seharusnya punya peluang untuk meraih pahala lebih banyak. Karena dia melakukan segala tugas mulia ibu, dengan beban dua kali lebih berat. Sebab anak-anak yang harus diurus dan diladeninya, bukanlah anak kandungnya. Mengurus anak kandung saja sudah berat, apalagi mengurus anak tiri, yang bukan darah daging. Kewajiban ibu tiri pada anak tiri, kata pak ustadz, termaktub dalam kewajiban istri ‘menjaga harta suami’. Soalnya anak adalah harta seorang ayah. Jadi kalau ibu tiri merebus anak tirinya, misalnya, artinya dia merusak harta suaminya, dan konsekuensinya bukan cuma penjara, tapi juga neraka.