Showing posts with label Sketsa Bunda. Show all posts
Showing posts with label Sketsa Bunda. Show all posts

Saturday, October 15, 2011

DOA YANG MAKBUL

Subuh, setiap bangun tidur, biasanya saya menyalakan tv dan mencari saluran berita. Tapi subuh itu saya iseng mendengarkan ceramah seseorang. Sebab temanya agak lain dari biasa: tentang ibu tiri. Tentu saja saya merasa punya kepentingan dengan tema ceramah ini.
Kata ustadz itu, yang muda dan selalu membuat orang tertawa, ibu tiri seharusnya punya peluang untuk meraih pahala lebih banyak. Karena dia melakukan segala tugas mulia ibu, dengan beban dua kali lebih berat. Sebab anak-anak yang harus diurus dan diladeninya, bukanlah anak kandungnya. Mengurus anak kandung saja sudah berat, apalagi mengurus anak tiri, yang bukan darah daging. Kewajiban ibu tiri pada anak tiri, kata pak ustadz, termaktub dalam kewajiban istri ‘menjaga harta suami’. Soalnya anak adalah harta seorang ayah. Jadi kalau ibu tiri merebus anak tirinya, misalnya, artinya dia merusak harta suaminya, dan konsekuensinya bukan cuma penjara, tapi juga neraka.

Sunday, March 27, 2011

Kedua Ibu dan Bapakku

Suatu kali saya pernah benci mendengar doa. Sakit rasanya mendengar doa itu terus menerus dikumandangkan. Apalagi, yang mengucapkannya adalah anak saya si buyung, yang saya harapkan dengan sepenuh hati kelak akan tumbuh menjadi lelaki sejati. Tapi hari demi hari saya harus meringkuk menahankan tusukan-tusukan itu, sementara saya duduk menemani si buyung di kelas TKnya.
Doa itu adalah doa untuk kedua orangtua.

Thursday, March 24, 2011

BUNDA PUN BERBOHONG

Entah kenapa si bayi Fathia senang sekali menempel, menyusu berlama-lama. Kalau menyusu kakinya dilintangkan ke badan saya, kedua tangan memegangi kendi minumannya. Atau mencungkil-cungkil hidung saya. Atau, kesukaannya akhir-akhir ini, nguleni perut saya yang sehabis melahirkan jadi berlemak. Lalu menggumam-gumam, senandung surga yang hanya diajarkan Tuhan pada para bayi. Walau pun sudah lelap, mulut mungil itu seperti mulut ikan sapu-sapu, menempel eraaat. Setengah jam, satu jam. Tidak bisa dilepas! Kalau dilepas dia pasti bangun, bikin saya harus kerja keras menidurkan lagi. Jadi ya terpaksa pasrah....mendekap vampir kecil tersayang itu sambil membayangkan nasi, sambal udang sabu, balado telur, mie, air bening yang segar, teh manis panas, kopi Aceh yang harum--karena saya jadi kelaparan dan kehausan. Kadang-kadang sampai harus menahan kepingin bab juga!